[VIDEO] Gol Penalti ‘Paradinha’ Ala Lewandowski Ke Gawang Denmark Dianggap Kontroversial, Apa Sebabnya?

Robert Lewandowski mencetak hat-trick saat Polandia mengalahkan Denmark, salah satunya melalui gol penalti yang menimbulkan sedikit kontroversi.

Kontroversi Gol Penalti Paradinha Lewandowski / Polandia Denmark

Sepakbola.com, Warsaw – Polandia menyegel kemenangan 3-2 atas Denmark pada babak kualifikasi Piala Dunia 2018 Grup E pada Minggu (9/10) dini hari WIB. Semua gol Polandia dicetak sang bomber haus gol, Robert Lewandowski.

Striker yang bermain untuk Bayern Munchen ini membukukan hat-trick pada pertandingan ini, sekaligus membuatnya telah mencetak tujuh gol untuk timnas Polandia di babak Kualifikasi.

Lewandowski mencatatkan hattrick tepat pada menit ke-47, yang membuat dua gol balasan dari Denmark tak berarti apa-apa. Akan tetapi, ada sedikit kontroversi mengenai gol penalti dari Robert Lewandowski yang menjadi gol keduanya di pertandingan itu.

Striker Polandia itu terlihat jelas berhenti berlari sejenak ketika akan mengambil penalti. Gerakan yang dilakukan Lewandowski disebut ‘Paradinha’. Kembali ke tahun 2010, FIFA melarang penalti ‘Paradinha’ di mana striker berhenti berlari, dengan maksud untuk melihat gerakan kiper, ketika akan menendang bola.

Sebagai pihak yang dirugikan di pertandingan itu, Kasper Schmeichel, memprotes keras pinalti tersebut kepada wasit. Namun sayangnya, atas perbuatan itu dirinya mendapatkan kartu kuning dari wasit.

Meskipun begitu, Penalti Paradinha itu menjadi viral sejak gol itu tetap disahkan oleh wasit asal Italia Gianluca Rocchi.

Beberapa pihak menilai, bahwa penalti yang dilakukan Lewandowski sah. Lewa tak melakukan berhenti bergerak sebelum menendang, namun Lewa melakukan gerakan mengecoh kiper. Dan lumrah saja gaya tendangan seperti itu.

Akan tetapi, apakah penalti macam ini sah atau tidak? Tentu saja pada akhirnya penilaian wasit yang menentukan. (Sumber: 101greatgoals.com)

Berikut Cuplikan Tendangan Pinalti Kontroversial Lewandowski

Penulis: Maulana Habibi/Editor: Rudi Purwantoro

Komentari Artikel Ini