,

3 Alasan Mengapa Craig Shakespeare Pantas Disebut Malaikat Penolong Leicester City

Craig Shakespearea resmi diangkat sebagai pelatih hingga akhir musim

Sepakbola.com, Leicester – Craig Shakespeare mungkin saat ini menjadi seseorang yang berhasil membuat sebuah langkah sensasional dalam karier kepelatihannya. Pantas bila ia disebut sebagai malaikat penolong Leicester City, di mana dalam empat laga terakhir dia mampu membawa The Foxes menyapu bersih semua laga itu dengan kemenangan.

Dengan semua kredit yang dialamatkan padanya, ia telah mampu menjawab sebuah ekspektasi tinggi manajemen klub. Bagaimana tidak, dia ditunjuk sebagai suksesor Claudio Ranieri yang sebelumnya sukses mencatatkan sejarah menjadikan Leicester sebagai kampiun Premier League untuk pertama kalinya musim lalu.

Dengan minimnya pengalaman, tentu pekerjaan tersebut tidaklah mudah baginya untuk langsung bisa menyatu dengan tim. Namun, pelatih yang sebelumnya menjabat asisten Ranieri setidaknya memiliki pandangan tentang perubahan apa yang harus dilakukan The Foxes.

Berikut tiga alasan kebangkitan Leicester City di bawah Shakespeare.

1. Metode Pendekatan Shakespeare Kepada Penggawa The Foxes

Shakespeare

Cerita Leicester sempat meredup saat Ranieri tak mampu memberikan warna baru dan kesulitan mencari formula baru dalam meracik sanga jawara bertahan. Mereka hampir kehilangan segalanya entah kepercayaan diri, semangat daya juang, dan identitas semasa masih ditukangi Ranieri. Namun, Shakespeare membuat semua aspek tersebut kembali ditunjukkan si Rubah.

Habatnya, Shakespeare menjadi manajer pertama dalam sejarah Liga Inggris yang membawa tim mencetak tiga gol dalam setiap laga dalam tiga laga pertamanya sebagai pelatih. Di mana Leicester berhasil menang 3-1 kontra Liverpool, 3-1 kontra Hull City, 3-2 kontra West Ham. Dan salah satu kemenangan bersejarah 2-0 atas Sevilla di babak 16 besar Liga Champions, mereka lolos ke perempatfinal dengan skor agregat 3-2.

Dengan tanpa mengenali karakter pemainnya, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Jadi, kuncinya adalah suksesnya Shakespeare mengembalikan kepercayaan diri yang sempat hilang dari para pemain Leicester.

2. Serangan Balik Mematikan

West Ham United v Leicester City - Premier League

Seperti saat mereka menjadi juara musim lalu, The Foxes memiliki rataan penguasaan bola hanya mencapai 40 persen per laga. Namun, dari segi efektivitas serangan mereka patut diwaspadai. Hal itu sempat hilang di awal musim, dengan formasi yang stagnan 4-4-2, si Rubah tak memiliki efektifitas yang bagus.

BACA
Langkahi Hazard Dan Ibrahimovic, Gelandang Bertenaga Kuda Chelsea Dinobatkan Jadi Pemain Terbaik Inggris Versi PFA

Dengan hadirnya Shakespeare, Leicester City mengubah sistem formasi dengan hanya menempatkan satu sosok striker berkarakter cepat yang ada dalam diri Jamie Vardy. Formasi 4-2-3-1 menjadi formula bagi The Foxes, Vardy yang disokong tiga gelandang serang kreatif Marc Albrighton, Riyad Mahrez, dan Okazaki.

Mungkin Mahrez cs masih tetap kalah dari sisi penguasaan dari para lawan, namun lihatlah betapa berbahayanya mereka saat menyerang balik. Itu dimulai saat menghadapi Liverpool yang menjadi titik balik kebangkitan Leicester musim ini, di mana Vardy dengan kecepatannya, dua kali lepas dari penjagaan bek The Reds dan mampu mencetak dua gol.

3. Lini Tengah Menjadi Tangguh

Wilfred Ndidi

Di awal musim ditinggal sosok N’Golo Kante sempat disebut menjadi kehilangan terbesar Leicester. Memang benar saja, Amartey yang ditunjuk sebagai pengganti Kante di bawah Ranieri gagal melaksanakan tugasnya itu. Posisi sentral permainan The Foxes, terlihat kehilangan sentuhannya lagi. Mereka sering kalah duel, dan yang mengakibatkan mudahnya para penyerang lawan masuk ke dalam kotak penalti mereka.

Saat ini peran itu diberikan ke pundak Wilfred Ndidi, pemain rekrutan anyar di bursa transfer Januari yang langsung memberi dampak signifikan atas kebangkitan Leicester. Mantan gelandang Genk ini berhasil memerankan sebagai pemain pemutus serangan lawan dan pembangun serangan tim. Baru berusia 20 tahun, ketenangannya begitu luar biasa.

Mungkin salah satu penampilan terbaiknya dilakoni saat secara mengejutkan Leicester menyingkirkan Sevilla di babak 16 besar Liga Champions. Ndidi saat itu berperan begitu lugas bersama dengan Danny Drinkwater. Ia menyebabkan masalah besar untuk Samir Nasri, Vitolo, dan sejumlah pemain penting Sevilla lainnya.

Penulis: Maulana Habibi/Editor: Rudi Purwantoro

Cedera Lutut, Bek Kanan Atletico Madrid Terancam Absen Lawan Leicester

Adam Lallana Peluang Emas Kontra Manchester City

[VIDEO] Lallana Minta Maaf Lewatkan Peluang Emas Kontra Manchester City, Kira-kira Dimaafin Gak Ya?