in

Serba-serbi Liga Champions 2016/2017: Dari Yang Terbaik Hingga Yang Mengejutkan Musim Ini

Serba-Serbi-Liga-Champions-20162017

Sepakbola.com – Satu musim luar biasa lainnya dari Liga Champions kini resmi berakhir. Untuk juaranya masih mengeluarkan nama Real Madrid yang makin menegaskan dominasi mereka di kompetisi paling bergengsi antar klub Eropa ini. Mengalahkan Juventus di partai puncak, El Real menasbihkan diri jadi yang terbaik 12 kali dan mengungguli pesaing terdekatnya, AC Milan, yang ‘baru’ punya tujuh trofi.

Meski tidak semua senang dengan hasil akhir Liga Champions musim ini, karena tim jagoannya kalah atau gugur, 2016/2017 tetaplah punya kenangan manis. Dari tim-tim underdog yang melaju jauh, gol-gol indah, kutukan juara bertahan yang patah, sampai fakta di mana Cristiano Ronaldo kini resmi jadi top skorer di lima musim beruntun.

Berikut Sepakbola.com rangkum semua kenangan indahnya dalam serba-serbi Liga Champions 2016/2017.

Gol Terbaik 2016/2017

Ada banyak gol indah yang terjadi di musim ini dari sepakan roket dari jarak 30 yard sampai trik chip yang memukau sekaligus membuat mulut ternganga. Akan tetapi boleh percaya atau tidak yang terbaik kadang selalu disimpan sampai akhir. Gol Mario Mandzukic di laga final yang mempertemukan Juventus dan Real Madrid kemarin bisa dibilang jadi salah satu yang terbaik jika bukan yang terbaik yang pernah tercipta di laga puncak kompetisi Eropa.

Golnya terjadi bukan dari sebuah tendangan gunting penuh power, namun terjadi berkat kerja sama tim oke dengan bantuan skill dari sang pemain dan tentu saja sedikit keberuntungan.

Bola yang mengarah ke Alex Sandro langsung diarahkankan ke Gonzalo Higuain yang tidak membuang waktu memberikannya ke Mandzukic yang berada dalam posisi membelakangi gawang. Meski dijaga Casemiro dan Dani Carvajal, wide-targetman asal Kroasia itu mampu melepaskan tembakan tanpa melihat sasaran setelah sebelumnya mengontrol si kulit bundar menggunakan dada. Alhasil bola kemudin meluncur dengan kecepatan sedang dan masuk tanpa bisa dihentikan kiper Keylor Navas yang hanya bisa menggapai udara. Meski pada akhirnya Juve harus kalah. gol penyama kedudukan ini tetaplah sebuah karya seni bernilai tinggi.

Penyelamatan Terbaik 2016/2017

Banyak aksi penjaga gawang yang sudah membuat kita berdecak kagum di UCL edisi ini, namun sepertinya tidak ada yang mengalahkan penyelamatan Jan Oblak yang satu ini. Seorang kiper bisanya akan dapat pujian jika melakukan double save, namun penggawa Atletico Madrid ini mampu membuat triple save!.

Meski dalam posisi memimpin secara agregat 4-2 dari Bayer Leverkusen, Atletico Madrid tetap butuh menjaga keperawanan gawangnya agar peluang mereka lolos ke perempat final tetap terbuka. Saat yang menegangkan kemudian terjadi saat Oblak dengan kerennya mementahkan tiga peluang beruntun dari Julian Brandt dan Kevin Volland. Alhasil Los Rojiblancos sukses menjaga cleancheets dan melaju ke babak selanjutnya.

Sebenarnya ada kandidat lain seperti saat Maneuel Neuer menangkis peluang terbuka Ronaldo dari jarak dekat dan penyelamatan luar biasa Hugo Lloris kontra Leverkusen, namun Oblak tetaplah yang nomor satu.

BACA
Menurut Mathieu, Neymar Pindah Ke PSG Untuk Lepas Dari Bayang-Bayang Messi

Penampilan Terbaik 2016/2017

Saat tim anda lolos ke fase knock out dan bertemu lawan yang kuat, pastilah anda berharap peran pemain bintang bisa menonjol. Itulah yang dilakukan Ronaldo saat jadi pahlawan kemenangan Madrid atas Bayern Munchen di fase delapan besar April lalu.

Tidak cuma membuat dua gol tandang krusial di Allianz Arena, CR7 meneruskan performa impresifnya kala balik menjamu di Santiago Bernabeu. Mencetak satu gol di waktu normal, winger asal Portugal ini melengkapi hattrick-nya di extra time untuk membawa Los Blancos menang 4-2 dan lolos ke semifinal dengan agregat 6-3.

Momen Tersedih 2016/2017

Gianluigi Buffon bukanlah tipe pemain yang punya banyak haters seperti Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo yang masing-masing punya basis fans fanatik(?). Ia bahkan termasuk legenda hidup yang dicintai hampir semua elemen sepakbola.

Jika bukan Madrid yang jadi lawannya di partai final yang lalu, mungkin para suporter Los Galacticos pun akan gembira jika Buffon meraih piala Si Kuping Besar tersebut. Pasalnya kiper senior berusia 39 tahun itu belum pernah seklipun meraihnya meski punya karier luar biasa bersama Juve dan timnas Italia.

Sayangnya di laga yang paling menentukan, gawang Buffon yang cuma kebobolan tiga kali sebelum final malah harus diberondong empat gol oleh Madrid dan Juve dipaksa tunduk 1-4. Dengan usianya yang sudah mendekati kepala empat, apakah masih ada kesempatan bagi Buffon meraih trofi UCL?

Kuda Hitam Terbaik 2016/2017

Selalu menyenangkan rasanya jika melihat ada sebuah tim dengan banyak pemain muda merusak dominasi para raksasa yang sudah mapan. Itulah yang dilakukan AS Monaco musim ini.

Dimanajeri pelatih jenius, Leonardo Jardim, Monaco tampil trengginas. Dengan dimotori Kylian Mbappe, Thomas Lemar, Djibril Sidibe, Benjamin Mendy, Bernardo Silva, Tiemoue Bakayoko, serta sejumlah pemain senior seperti Valeri Germain dan Radamel Falcao jawara Ligue 1 ini mampu melaju sampai semifinal sebelum dihentikan Juve.

Dengan formasi andalan 4-4-2, tim yang bermarkas di Stade Louis II ini bahkan mampu menumbangkan Manchester City dan Borussia Dortmund dalam prosesnya. The Citizens bahkan mampu dipecundangi setelah ketertinggalan 5-3 di agregat dibalikkan dengan kemenangan 3-1.

Andai sebagian besar skuat bisa dipertahankan di musim panas ini, Monaco dijamin bisa kembali berbicara banyak di edisi mendatang.

Tim Tergigih 2016/2017

Musim Liga Champions milik Leicester City patut diberi apresiasi meski ‘hanya’ mampu sampai ke babak delapan besar. Pasalnya mereka baru pertama kalinya tampil di panggung ini setelah menjadi kampiun Premier League 2015/2016.

Ditempatkan di grup yang berisi FC Porto, FC Coppenhagen, dan Club Brugge pasukan Rubah Biru tidak mengalami banyak kendala. Barulah di 16 besar tantangan yang sebenarnya datang dalam wujud Sevilla. Meskipun sang lawan notabene lebih berpengalaman di panggung Eropa, nyatanya Leicester mampu lolos ke fase selanjutnya dengan kemenangan 2-0 di kandang setelah sebelumnya kalah 2-1 di leg pertama.

BACA
PREDIKSI Arema FC vs Persija Jakarta: Berpotensi Ketat di Malang

Kegigihan mereka di kompetisi ini makin patut diacungi jempol kala undian mempertemukan mereka dengan Atletico Madrid di delapan besar. Meski wakil Spanyol tersebut diperkuat nama-nama beken seperti Antoine Griezmann, Fernando Torres, dan Koke Leicester hanya tersingkir dengan agregat gol 1-0. Andai tidak ada penalti kontrovesial di leg pertama mungkin kisah The Foxes bisa sedikit berbeda.

Momen Paling Memalukan 2016/2017

Arsenal seakan punya takdir tersendiri dengan Bayern Munchen di panggung Liga Champions, pasalnya mereka hampir selalu bertemu di tiap edisinya entah di fase grup ataupun gugur. Di 2016/2017 ini bahkan mereka kembali berjodoh dengan The Gunners menjadi bulan-bulanan oleh Die Roten.

Bertemu di babak 16 besar, Bayern yang lebih dulu menjadi tuan rumah tidak menunjukkan belas kasihan dengan membantai sang tamu dengan skor mencolok 5-1. Hal ini kemudian memicu suporter Arsenal untuk memboikot laga leg kedua dengan tidak datang ke Emirates andai tidak ada usaha serius dari klub mereka untuk menang.

Sayangnya tragedi yang sama kembali terjadi. Meriam London kembali dihajar FC Hollywood dengan skor 1-5 yang mana membuat agregat total menjadi 10-2. Lebih dari sekedar memalukan untuk Arsenal yang punya tradisi selalu lolos ke Liga Champions tiap musimnya.

Paling tidak Arsenal tidak perlu bermimpi buruk lagi di 2017/2018 karena nanti Liga Europa yang akan jadi tempat bermain mereka.

Fans Terbaik 2016/2017

Suporter Borussia Dortmund terkenal dengan koreografi The Yellow Wall mereka yang menggambarkan sebuah tembok kuning besar. Namun ternyata hati mereka juga sebesar kreativitas dan loyalitas mereka.

Saat terjadi insiden serangan bom pada bus tim Dortmund, yang mana sempat membuat bek Marc Bartra dilarikan ke rumah sakit, pertandingan antara Dortmund dan Monaco akhirnya dihentikan. Akibatnya sejumlah suporter tim tandang kebingungan karena mereka berencana untuk menonton saja dan bukannya bermalam.

Berutung Die Borussen mengimbau fansnya agar mau memberi tumpangan tempat menginap bagi para suporter Monaco dengan tagar #bedforawayfans. Tentu ini patut diapresiasi karena banyak fans Monaco yang akhirnya tidak menggelandang di kota yang tidak mereka kenal. Respek maksimal untuk Dortmund.

Rising Star Terbaik 2016/2017

Kylian Mbappe sukses memukau mata setiap penikmat Liga Champions pada musim ini dengan penampilannya yang ciamik. Berusia 18 tahun, Mbappe sukses mengantar Monaco hingga semifinal.

Pemain sayap yang juga fasih menjadi striker ini pamer keahlian mencetak gol dengan gelontoran enam gol. Salah satunya bahkan dicetak ke gawang Juve yang dijaga kiper legendaris Gianluigi Buffon.

Di bursa transfer nanti nama Mbappe dipastikan jadi properti panas. Tidak kurang dari Real Madrid dan Mnachester United sudah menunjukkan minat untuk memboyong penggawa timnas Prancis ini.

BACA
Ini Yang Akan Dilakukan Juru Taktik PSG Soal Konflik Cavani Dan Neymar

Pelatih Terbaik 2016/2017

Memang benar jika Massimiliano Allegri cuma jadi runner up bersama Juventus, namun kecerdasannya mampu membuat kita angkat topi padanya. Pelatih asal Italia itu sukses membentuk Juve sebagai tim dengan pertahanan terbaik.

Bukti paling sahih adalah saat ia membuat gawang Buffon tidak kebobolan selama 180 menit melawan Barcelona. Padahal Barca adalah tim dengan lini serang paling mengkilap dengan adanya Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar.

Meski pada akhirnya justru kebobolan empat gol saat bersua Madrid di final, Allegri tetaplah seorang jenius di sepakbola.

Pertandingan Terbaik 2016/2017

Meski dengan segala kontroversi yang terjadi di dalamnya, duel leg kedua Barcelona vs Paris Saint-Germain tetaplah punya keindahan tersendiri di dalamnya. Bisa juga dibilang inilah comeback paling dramatis di sejarah Liga Champions.

Barca seakan memang kehilangan daya magisnya kala remuk dihajar PSG dengan skor 4-0 di Parc de Princes, namun ada drama yang sudah mereka siapkan di Camp Nou. Entah bagaimananya caranya Los Cules dan pelatih Luis Enrique mampu mebalikkan keadaan dengan kemenangan gemilang dengan skor 5-1. Sergi Roberto yang bikin gol pamungkas di menit-menit akhir jelas jadi pahlawan yang akan selalu diingat publik Catalan sampai nanti.

Meski ada comeback apik yang dilakukan Monaco pada City di babak yang sama, namun laga milik Barca dirasa lebih pantas untuk mendapat predikat laga terbaik.

Pemain Terbaik 2016/2017

Tidak terbantahkan lagi jika Cristiano Ronaldo adalah pemain terbaik di Liga Champions edisi kali ini. Sumbangan 12 golnya, terbanyak di 2016/2017, sukses membawa Real Madrid jadi kampiun. Di laga final ia bahkan memborong dua gol kemenangan atas Juventus.

Semenjak kompetisi memasuki fase knock out, CR7 menjelma jadi pemain paling vital untuk Los Galacticos. Di laga kontra Bayer Munchen ia memborong lima gol dalam dua leg, tiga gol saat jumpa Atletico Madrid, dan dua pada final melawan Juventus.

Seperti saingan beratnya, Lionel Messi, kini Ronaldo punya empat trofi Liga Champions. Jika semuanya berjalan baik bagi kapten timnas Portugal itu, maka lima raihan Ballon D’Or La Pulga bisa ia samai di 2017 ini. (Daily Mail)

Penulis: Izzuddin Faruqi Adi Pratama/Editor: Rudi Purwantoro

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%