in

Perpisahan Mengharukan Dua Gelandang Gaek Indonesia

Dua bintang senior yakni Ponaryo Astaman dan Syamsul Bahri Chaeruddin dipastikan gantung sepatu musim ini.

Sepakbola.com, Bekasi – Sepakbola Indonesia kembali kehilangan dua maestro lapangan hijau. Dua bintang senior, Ponaryo Astaman dan Syamsul Bahri Chaeruddin dipastikan gantung sepatu musim ini.

Laga pamungkas pekan ke 34 Liga 1, jadi panggung terakhir kedua mantan gelandang timnas ini di kancah persepakbolaan nasional sebagai pemain.

Penampilan Ponaryo Astaman saat Borneo FC menjamu Arema FC, Sabtu (11/11) malam lalu di Stadion Segiri Samarinda, rupanya menjadi penanda akhir kiprah sang kapten di pentas sepak bola nasional. Ponaryo memutuskan pensiun setelah menjalani karier profesional sejak tahun 2000 lalu.

Kemenangan 3-2 Borneo atas Arema pada pada pekan terakhir Liga 1 2017 itupun seakan jadi akhir yang manis bagi mantan kapten timnas Indonesia itu. Meskipun, saat itu ia hanya tampil sebentar sebagai pemain pengganti yang masuk menit ke-89 menggantikan Flavio Beck Junior.

Video Perpisahan Ponaryo Astaman

“Ini tahun terakhir saya di sepak bola profesional. Saya memulai karier di bawah tribune, juga mengakhiri karier di bawah tribune. Terima kasih atas dukungannya,” katanya. Salam perpisahan pemain 38 tahun itu disambut riuh tepuk tangan penonton yang memadati Stadion Segiri.

Bersama Pesut Etam, Ponaryo mencatat 19 penampilan dan dua assist di kompetisi Liga 1 2017. Ponaryo mengawali karier sebagai pesepak bola profesional 17 tahun silam dengan membela klub asal Kalimantan Timur, Pupuk Kaltim Bontang. Kini, dia juga mengakhiri kiprahnya sebagai pemain juga bersama klub asal Bumi Etam, Borneo FC.

Selama membela Pesut Etam sejak 2015, Popon turut membawa Borneo FC merengkuh gelar Piala Gubernur Kaltim 2016. Saat itu ia mencetak gol pada partai final yang membuat Borneo FC menundukkan Madura United dan berhak meraih trofi. Bersama timnas, ia mengantongi 62 penampilan dan dua gol di berbagai ajang internasional.

Sikap serupa dilakukan Syamsul Bachri di ujung kariernya sebagai pemain. Ia menjalani pertandingan perpisahan yang cukup mengharukan bersama PSM Makassar saat melawan Madura United di Stadion Andi Mattalata, Makassar, Minggu (12/11) petang.

Masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-62, Syamsul langsung mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh isi Stadion. Dan sebagai bentuk penghormatan, dia langsung diberi ban kapten yang sebelumnya dikenakan oleh Hamka Hamzah.

Video Perpisahan Syamsul

. Syamsul Bahri Haeruddin @syamsulbacriheruddin . Kemarin malam merupakan terakhir kalinya kita melihat Syamsul tampil berlaga di lapangan hijau mengenakan kostum kebanggaan Juku Eja, setelah 15 tahun membela PSM. . Melalui jumpa pers setelah laga #PSMmaduraunited kemarin malam, Syamsul yang bergelar Dg. Sila, pamit undur diri dari Juku Eja seraya meneteskan air mata. . Terima kasih Dg. Sila atas dedikasi tenaga, pikiran dan perasaan yang telah kau tanam serta berikan kepada PSM, masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan dan Indonesia. . Jangan merasa gagal, karena kamu telah berhasil menjadi inspirasi banyak pemain dan calon pemain sepak bola masa depan. Berhasil menjadi representasi yang paling pas untuk menggambarkan karakter permainan PSM yang bermain dengan hati, pantang menyerah, enerjik, tidak kenal lelah dan ngotot bahkan sampai pertandingan terakhirmu kemarin malam. Berhasil menjadi pemain yang disegani kawan maupun lawan. Dan tentunya berhasil menjadi legenda hidup PSM dan sepak bola Indonesia. . Ewakooo Syamsul, Ewakooo Dg. Sila. Semoga tetap sukses kedepannya. . #EwakoPSM #SyamsulHaeruddin #Legenda

A post shared by PSM Makassar (@psm_makassar) on

Sayangnya selama 15 musim berbaju PSM, tidak ada gelar juara yang didapatnya, sehingga merasakan kegagalan yang mendalam.

Saat mengutarakan kegagalannya itu Syamsul sempat menangis. Suaranya terbata-bata. Beberapa kali menunduk sambil menyeka air mata. “Saya berharap bisa juara, tapi ternyata gagal lagi. Saya minta maaf kepada suporter yang selama ini setia mendukung PSM,” ujar Syamsul.

Mantan gelandang Timnas Indonesia ini bergabung dengan Pasukan Ramang sejak 2002. Sejak itu hanya mampu membawa PSM dua kali runner-up di Liga Indonesia 2002 dan 2004. Kegagalan ini membuat Syamsul tahu diri.

Ia mengaku sudah waktunya memberi kesempatan buat pemain muda. “Sudah banyak pemain muda yang lebih bagus. Saya harus memberi kesempatan kepada mereka,” tutur Syamsul.

Bentuk Penghormatan Klub Untuk Sang Legenda

Baik Borneo FC dan PSM Makassar juga pastinya jadi pihaknya yang bersedih. Namun kedua klub itu sudah menyiapkan bentuk penghormatan setelah pensiun.

Ponaryo sendiri kemungkinan besar akan masuk dalam jajaran tim kepelatihan Borneo FC. Selain sudah menjalani kursus kepelatihan lisensi A AFC, pemain yang pernah merantau ke Malaysia bersama Melaka FC pada 2006-2007 ini juga pernah ‘magang’ sebagai pelatih selama kurang lebih satu pekan di skuat Pesut Etam.

Untuk PSM sendiri berencana memensiunkan nomor punggung 8 yang selama ini dipakai Syamsul. Tak hanya itu, gelandang jangkar kelahiran Makassar, 9 Februari 1983 itu akan diplot sebagai asisten pelatih yang bertugas membina pemain usia muda. Maka dari itu PSM juga siap mengakomodir lisensi C AFC yang belum dipunyai Syamsul saat ini.

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%