Bukannya Kepastian, Debut VAR Di Inggris Malah Membawa Ketidakjelasan

Sepakbola.com – Mungkin itu handball, atau tidak. Sulit diceritakan. Dari sudut ini tampak bagus, dari sudut lainnya terlihat lengannya sedikit menyentuh bola. Setelah 10 kali melihat replay Anda bisa membuat argumen kuat sehingga gol tersebut harusnya dianulir. Tetapi, ada juga yang merasa sebaliknya.

Seperti itulah gambaran debut VAR di Inggris pada pertandingan FA Cup antara Brighton and Hove Albion melawan Crystal Palace. Pada pertandingan ini Brighton selaku tuan rumah menang dengan skor 2-1 berkat gol kontroversial Glenn Murray di menit 87. Dalam tayangan ulang terlihat bola mengenai paha Murray lalu memantul ke lengannya sehingga masuk ke gawang.

Wasit yang memimpin laga Andre Marriner, menekan earphone-nya di telinga seperti pengawal presiden yang diberi tahu kalau pimpinan mereka dalam perjalanan, namun keputusannya tetap gol tersebut sah. Ini bukan debut hebat VAR untuk menjadikan sepak bola sebagai olahraga paling obyektif. Dan ini bukan pertama kali karena di Serie A juga mengalami hal serupa.

brighton-palace-fa-cup
Andre Marriner wasit untuk laga Brighton vs Crystal Palace (9/1)

Di Stockley Park, studio Premier League Neil Swarbrick melihat sekilas kejadiannya – karena dia harus melihat 10 orang lagi di pertandingan tersebut – dan memutuskan Marriner tak perlu ke monitor di touchline untuk melihat replay. Ini semua berakhir dengan anti klimaks.

VAR dicoba pada Piala Konfederasi musim panas lalu, sudah digunakan di Australia, Jerman dan Italia. Selanjutnya akan diluncurkan untuk kompetisi-kompetisi lain. VAR merupakan versi wasit video teknologi yang sudah digunakan bertahun-tahun di olahraga. Rugby League punya video referee, kriket punya video umpire dan di tennis ada Hawk-eye.

Perbedaan besarnya adalah di olahraga tersebut jelas apa yang terjadi pada mereka di stadion. Penanda atau pengumuman yang sudah sangat dikenal dibuat dan semua orang yang hadir bisa melihat kejadian yang dipertanyakan di layar yang lebar. Bukan hanya soal transparansi, tetapi juga kejelasan, menunjukkan dengan jelas apa yang membuat permainan dihentikan dan bagaimana wasit membuat keputusan. Memang masih ada subjektivitas dan tidak semua orang setuju dengan keputusan yang diambil, tapi setidaknya semua orang tahu apa yang terjadi.

Para pemain Palace dan suporter memprotes keras. Pelatih Roy Hodgson berbicara kepada ofisial keempat. Semua orang memandang Marriner, menunggu apakah dia butuh melihat layar untuk membuat keputusan.

Gol tersebut muncul di layar sejenak – cukup untuk melihat ada kemungkinan besar handball, tetapi tidak cukup lama untuk wasit yang mengambil keputusan. Namun, itu cukup bagi penonton untuk mendesak wasit agar melihat lagi ke layar di touchline, agar mereka tahu sudah membuat keputusan salah. Sayangnya itu tidak terjadi.

Usai pertandingan Manajer Brighton Chris Hughton merasa itu tidak masalah dan Murray tidak yakin bola mengenai bagian tubuhnya yang mana, tetapi dia yakin bola tidak menyentuh lengannya. Hodgson tentu kesal, tetapi dia kemudian meminta maaf              dan menerima gol tersebut.

Pertanyaan awal tentang VAR kembali muncul, itu akan menghilangkan kontroversial di sepak bola yang membuat olahraga ini menarik. Ini merupakan pertandingan yang dimainkan manusia sehingga subjektivitas dianggap sebuah keindahan dalam pertandingan ini.

Namun, ada yang lebih penting di sini yaitu ketidakpastian dalam stadion. Suporter berwajah kebingungan ketika wasit meniup peluitnya karena mereka tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi saat ada pemain yang bertengkar atau sikutan tersembunyi, hingga gol kontroversial. Mungkin mereka sudah merayakan gol, tetapi beberapa saat kemudian wasit menganulirnya. Tidak ada komunikasi dengan penonton yang hadir di stadion seperti alarm atau signal atau suara apapun yang memberi tahu apa yang terjadi.

Sepak bola memberikan efek instan kepada kita. Ketika gol kita melompat, ketika pemain idola kita dilanggar kita marah dan lain sebagainya. Tapi dengan VAR Anda harus menunda semua efek tersebut sebelum wasit menerima laporan dari studio atau memperhatikan layar di touchline. Apakah ini akan mengurangi keseruan pertandingan sepak bola?

 

Penulis: Ricky Sulastomo/Editor: Avandi Wiradinata

Komentari Artikel Ini