|
Delta Putra Sidoarjo (Deltras) berpeluang mendapatkan lisensi sebagai klub profesional. Berdasar hasil verifikasi Badan Liga Indonesia (BLI) kemarin (21/4), hanya sedikit pembenahan yang perlu dilakukan klub asal Kota Udang itu.
Di antara lima aspek yang diverifikasi, yakni sporting, legal, finansial, personel, dan administrasi serta infrastruktur, Deltras punya peluang memenuhinya. Bahkan, BLI tertegun karena Deltras sudah punya badan hukum berbentuk perseroan terbatas (PT).
Badan hukum yang bernama PT Deltras Raga Nusantara itu sudah dalam tahap penyelesaian akhir. "Saya surprise begitu dijabarkan bahwa Deltras sudah berbentuk PT. Ini perkembangan bagus, meski masih dalam proses," kata Joko Driyono, direktur BLI kemarin (21/4).
Meski begitu, Deltras belum bisa senang dulu. Lisensi profesional bukan jaminan bagi Deltras untuk bisa tampil di Superliga.
Kok begitu? Kalau Deltras masih berkutat dengan problem pendanaan, tentu sulit bagi mereka membentuk tim. Apalagi, hingga saat ini, Deltras masih berharap besar pada APBD Kabupaten Sidoarjo sebesar Rp 15 miliar yang pengucurannya terhambat.
Tanpa dana, bagaimana mereka bisa mengontrak pemain dan pelatih? "Soal dana mereka dari APBD atau bukan, itu urusan internal Deltras. Bisa saja sekalipun lolos verifikasi dan dapat lisensi profesional, tapi tidak ikut Superliga. Itu terjadi kalau timnya (pemain dan pelatih) tidak ada," ungkap pria asal Ngawi, Jatim, tersebut.
Lisensi professional, menurut dia, memang harus dimiliki tim yang akan berkompetisi di Superliga. Tapi, bukan berarti semua tim yang punya lisensi profesional bisa ikut Superliga. Sebab, Tim Divisi III pun boleh minta diverifikasi dan kalau lolos, mereka bisa dapat lisensi profesional.
Manajemen Deltras rupanya tidak sepakat kalau mereka dianggap belum siap secara tim. Sebab, hingga saat ini, The Lobster -julukan Deltras- sudah punya pemain dan pelatih. Hanya, belum lengkap komposisinya.
"Kami sudah punya pemain. Pelatih sudah menyatakan kesediaan untuk melatih di Deltras. Ya, pelatihnya asal Malaysia itu (Abdul Rahman Ibrahim, Red)," ungkap Asfijak, tim perencana Deltras.
Sementara itu, dalam verifikasi kemarin, BLI menyoroti youth development di Deltras. Menurut Joko, yang penting bukan banyaknya tim junior, tapi program dan konsep pembinaan. "Youth development-nya harus ada secara visual dan desain," ujarnya.
Kalau soal infrastruktur, saat verifikasi berlangsung, turun hujan deras sehingga lapangan Gelora Delta basah dan sedikit tergenang di beberapa bagian. "Sayang, jadi sulit mengetahui keras dan rata atau tidaknya lapangan," papar Joko.
Anggota tim verifikasi BLI lainnya, Darwis Satmoko, meminta kepada pengelola Stadion Gelora Delta agar ada tempat khusus bagi wartawan di tribun. Lokasi itu juga harus memiliki pembatas dan keterangan khusus pers. penulis: JawaPos
 |