3 Hal Yang Buat Manchester United Kesulitan Saat Ini

Sepakbola.com, Manchester – Sudah lima tahun Manchester United ditinggal Sir Alex Ferguson, tapi bagi fans mereka rasanya seperti seumur hidup. Usai Sir Alex memberikan 13 trofi Premier League, Setan Merah kini sadar Fergie lebih spektakuler dari yang dibayangkan.

David Moyes, Louis van Gaal dan sekarang Jose Mourinho masih belum bisa mengarahkan Manchester United ke jalur yang benar, sedikit pun belum menyentuh apa yang sudah dilakukan Ferguson.

Musim ini tampaknya malah lebih buruk. Start Manchester United benar-benar pahit dan grafiknya justru menurun. Setelah mereka seri melawan Wolverhampton, United kalah dari Derby County, tim divisi dua Inggris dan kemudian kalah lagi di Premier League 3-1 dari West Ham United.

Tidak hanya masalah performa di lapangan, namun ruang ganti juga tak kondusif. Hubungan buruk Paul Pogba dan Jose Mourinho menjadi konsumsi publik. Jadi, apa yang salah sebenarnya dengan Manchester United? berikut kami mencoba menilainya.

Jose Mourinho

Jose Mourinho Manchester United

Manchester United memiliki catatan pertahanan terbaik selama 2 tahun terakhir, tetapi musim ini tim manapun bisa membobol gawang mereka, De Gea seperti dibiarkan terus kebobolan.

Dalam beberapa musim terakhir, bukan kualitas pertahanan MU yang luar biasa, tetapi karena kecemerlangan De Gea sehingga United mampu mempertahankan keunggulan mereka. 90% dari pertandingan musim lalu setelah mencetak gol pertama, United langsung parkir bus, membuat lawan terus menekan mereka. Tapi kini lawan sudah tahu mengatasi hal ini, dengan memberi kesempatan MU untuk menyerang dan mereka memanfaatkan itu.

Kemudian tiap kali United turun minum, Mourinho seolah belum mampu memotivasi para pemainnya untuk bertarung sekuat tenaga.

Ketika lawan mereka mencetak gol lebih dulu dan kemudian memarkir bis, United tidak bisa mendapatkan momentum apa pun, mereka tidak tahu cara menciptakan peluang di situasi itu.

Bila kita bandingkan dengan Ferguson, 10 menit terakhir mereka sering bisa membalikkan keadaan – kita kendal dengan Fergie time – walau lawannya benar-benar bertahan.

Mungkin ini opini dan manajer punya cara beda menangani timnya, tetapi sampai sekarang sistem yang diterapkan Mourinho tak berjalan dengan baik, malah semakin buruk. Sayangnya Mourinho tetap bersikeras mempertahankan itu.

Romelu Lukaku

Sentuhan pertamanya saat mengontrol bola terlihat buruk dan kemampuannya agar tetap tenang di situasi penuh tekanan tidak ada sama sekali.

Berikut hal yang perlu kita pertimbangkan: Dua penalti yang dieksekusinya untuk United sejauh ini, menempatkan bola di antara penjaga dan tiang setinggi pinggang tanpa power dan tentu saja keduanya bisa diamankan kiper.

Penalti ketiganya saat melawan Derby ketika adu penalti mirip dengan dua penalti sebelumnya dan kiper bisa melakukan tugasnya. Lukaku kehilangan setidaknya 15 peluang emas musim lalu, banyak dari peluang itu yang akan menghasilkan poin tambahan dan musim ini sudah empat kali dengan sedikit atau tanpa tekanan dari para pemain lawan.

Sebagian besar golnya musim lalu untuk klub dan Belgia berupa sontekan atau sundulan sederhana di kotak penalti berjarak sekitar 5 meter. Kemudian sentuhan pertama yang berhasil menjadi gol hanya sekali dari tujuh kesempatan. Lukaku lebih sering butuh sentuhan kedua.

Seandainya berada di Liverpool, Spurs atau Manchester City, Lukaku bisa aman dari kehilangan poin. Karena taktik defensif United, dia menjadi sangat buruk setelah mendapat peluang seperti itu karena United jarang menciptakan peluang. Mourinho suka striker kuat yang bisa mengalahkan pemain belakang manapun – seperti Drogba, Diego Costa, Ibrahimovic, Diego Milito – itu bekerja dengan sistemmnya, tetapi sekarang tidak bersama Lukaku.

Negative Football

Jose Mourinho tak mainkan Alexis Sanchez West Ham United 3-1 Manchester United

Kisah horor musim ketiga Mourinho berlanjut, seolah-olah Jose tidak lagi tertarik mengelola klub. United memiliki talenta pemain dengan kemampuan menyerang yang baik dalam diri Mata, Sanchez, Martial, Rashford, Pogba, Lingard, hingga Lukaku.

Nama-nama itu setidaknya bisa mengkonversi 70% dari peluang yang mereka dapat. Namun manajer mereka memainkan sepakbola negatif, mereka diharapkan bisa bertahan 65-70 menit di setiap pertandingan. Akbiatnya, pemain-pemain itu tidak memberikan 100 persen kemampuannya.

Mereka punya naluri ingin bermain sepak bola yang cocok dengan mereka. Pertanyaannya, mengapa harus bermain dengan taktik yang membuat para pemain tidak nyaman? Atau sederhananya, kumpulkan pemain yang lebih cocok dengan gaya permainan Anda. Pemain seperti Sanchez yang apik memainkan sepak bola menyerang di Arsenal, menjadi pemandangan yang menyedihkan di United. Dia pemain dengan tingkat kinerja luar biasa dan DNA Barcelona mengalir deras di darahnya.

Mungkin ada beberapa alasan lagi, tetapi setelah kalah memalukan kemarin di Stadion London melawan West Ham, yang hanya memenangkan empat pertandingan di kandang tahun ini sebelum melawan United, dewan klub harus mengambil keputusan sebelum klub semakin tenggelam. (Sumber: sportskeeda.com)

Penulis: Ricky Sulastomo
Editor: Avandi Wiradinata

Komentari Artikel Ini