Kisah Dwight Yorke: Tolak Beasiswa Harvard Demi Liga Inggris

Hari ini, 3 November, 43 tahun silam striker ikonik Manchester United, Dwight Eversley Yorke lahir di Canaan, Trinidad and Tobago.

Sepakbola.com – Dwight Yorke lahir pada 3 November 1971. Ia bersinar dan menjadi andalan Trinidad and Tobago sejak usia muda. Yorke kemudian pergi ke Inggris pada usia 18 tahun dan menjadi salah satu pesepakbola yang sangat diperhitungkan pada masanya.

Berasal dari keluarga besar, sembilan bersaudara, Yorke sadar betul tentang kesulitan finansial keluarganya. Harus bekerja mencari kepiting untuk bisa membeli sepatu bola adalah salah satu fase sulit yang harus ia jalani demi meraih impiannya. Mengorbankan waktu sekolah kemudian membuat sang ibu sempat tak senang dengan keputusan Yorke.

Tur Aston Villa jadi pijakan pertama

Striker bertinggi 178 sempat berhenti sekolah untuk berkonsentrasi membela Trinidad dan Tobago dalam kualifikasi menuju Piala Dunia 1990 saat usianya masih 17 tahun. Dan tur Aston Villa yang diasuh Graham Taylor pada 1989 menjadi salah satu fase penting dalam karier Dwight Yorke.

Taylor langsung kepincut dengan bakat Yorke setelah menontonnya bermain dalam sebuah pertandingan persahabatan. Dan manajer Aston Villa yang setahun kemudian membesut Timnas Inggris setuju memberi mahar senilai 120.000 pounds (sekitar Rp.2,3 Miliar) kepada St Clairs, untuk membawa Yorke ke Inggris.

Kisah Dwight Yorke Manchester United
Dwight Yorke muda (kanan) bersama Graham Taylor, manajer yang menemukannya di Trinidad dan Tobago.

Sang ibu tak senang dengan pilihan Yorke meski kemudian tak kuasa menghalangi keinginan sang anak. Apalagi Bermain untuk Aston Villa sebenarnya bukan satu-satunya tawaran yang diterima Yorke.

“Aku tak bersekolah selama delapan bulan pada 1989-90 karena situasi (kualifikasi) Piala Dunia. Aku masih 17 tahun dan ibu sangat menentangnya. Kemudian Villa datang dalam tur dan ingin membawaku pergi ke Inggris. Aku berkata kepada ibu, ‘Aku bisa kembali bersekolah saat aku berumur 35 tahun, tapi sepakbola tak bisa’.”

“Aku ditawari beasiswa sepakbola dari Harvard University, jadi kalau aku tidak ke Inggris aku akan ke sana. Kemungkinan aku akan kuliah akuntansi, aku selalu menyukainya. Aku tak tahu kenapa, memang terdengar aneh. Matematika selalu menjadi favoritku saat sekolah.”

Makanya mengirimkan uang setelah sukses kepada ibunya tak pernah dilupakan oleh Yorke. Ia bahkan menjadikannya sebagai prioritas utama. “Datang dari keluarga miskin, prioritas pertamaku saat uang datang adalah menyelesaikan semua masalah, terutama untuk ibuku. Ia telah melewati banyak hal sulit dan kami sangat dekat.”

Tak selalu mulus di Aston Villa

Taylor tak langsung memaksakan Yorke bermain di Liga Inggris yang menuntut duel-duel fisik karena usia yang masih muda. Bahkan harus menunggu Aston Villa berganti pelatih karena Taylor ditunjuk menangani Timnas Inggris, bagi Yorke untuk mendapatkan bertanding pertamanya. Adalah Dr Josef Venglos, pelatih asal Slovakia yang memberikan debut penuh pada Yorke pada 1990, dan lawannya adalah Manchester United.

Menariknya lagi manajer Manchester United saat itu, Tommy Docherty, begitu meremehkan pemain muda asal Trinidad dan Tobago yang bermain untuk Aston Villa. Bahkan ia berani mempertaruhkan namanya bahwa Yorke tak akan pernah sukses di kasta tertinggi Inggris. “Jika pemain muda itu berhasil menjadi pesepakbola divisi utama (kompetisi tertinggi ketika itu), maka namaku adalah Mao Tse-Tung” kata Docherty.

Tommy Docherty sama sekali tak percaya Dwight Yorke bisa sukses di Liga Inggris.

Pada akhirnya Yorke sukses di kasta tertinggi Inggris bahkan menjadi salah satu pemain ikonik pada masanya dan menjadi legenda setelah pensiun. Dan tentu saja Docherty tak mengubah namanya menjadi Mao Tse-Tung.

Yorke masih belum menemukan sinarnya di bawah asuhan Venglos yang gagal dan digantikan oleh Ron Atkinson, yang dikenal sebagai Big Ron. Dan manajer baru Villa tersebut menerapkan gaya manajerial yang berat untuk Yorke pada awalnya sebelum akhirnya berkompromi. “Ron tahu cara mengeluarkan [potensi] terbaik dari pemain, tapi begitu sulit pada awalnya.”

“Banyak kata-kata kasar keluar yang aku masukkan ke hati. Aku adalah tipe pemain yang butuh orang di sekitarku berkata, ‘Ayo Dwight, kamu bisa melakukannya’, akhirnya ia menyadarinya.”

Bersama manajer Aston Villa berikutnya, Brian Little, Yorke berhasil memenangi Piala Liga pada musim 1995-1996. Di final melawan Leeds United yang berakhir dengan skor 3-0, Yorke mencetak satu gol. Tapi masa sulit Yorke belum berakhir ketika Little mendatangkan Stan Collymore yang memecahkan rekor transfer klub, 7 juta pounds, pada 1997. Yorke harus bersaing dengan Collymore dan Savo Milosevic untuk dua posisi lini depan. Akhirnya ia harus “mengalah” dan digeser ke posisi gelandang.

Memori indah duet Yorke-Cole

Yorke kemudian harus bersitegang dengan manajer Aston Villa John Gregory pada awal musim 1998-1999. Gregory enggan menjual Yorke yang membantu tim bukan hanya selamat dari jerat degradasi namun juga lolos ke Piala UEFA. Ia hanya mau melepas jika United berkenan membarternya dengan Andy Cole.

Namun Yorke kadung ngebet pindah ke Manchester United. Pada akhirnya Aston Villa menerima mahar 12,6 juta pounds setelah Yorke bermain tanpa semangat di pertandingan pembuka musim itu. Dan kepindahan itu terbukti membawa sukses besar pada karier Yorke.

Kisah Dwight Yorke Manchester United
Duet Andy Cole dan Dwight Yorke sangat penting dalam sukses trebel Manchester United pada musim 1998-1999.

Duet Andy Cole dan Dwight Yorke menjadi bagian bagian krusial dari kecemerlangan kampanye Manchester United pada musim 1998-1999 yang berakhir treble. Memenangi Liga Inggris, Piala FA dan Liga Champions.

Awalnya duet Cole-Yorke bukanlah rencana pertama Sir Alex Ferguson. Yorke direkrut setelah United gagal merealisasikan transfer bintang Ajax Amsterdam Patrick Kluivert. Dan saat pertama datang, Yorke sempat hanya menjadi pilihan ketiga di belakang Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjær.

Bersama Setan Merah, Yorke mendominasi Liga nggris dan memenangi tiga gelar liga tiga musim beruntun. Musim ketiganya pada 2000-2001 di Manchester United tak terlalu mulus. Kesempatan bermainnya berkurang setelah disinyalir bersitegang dengan Ferguson karena isu gaya hidupnya di luar lapangan. Ia akhirnya meninggalkan Old Trafford pada tengah musim keempatnya di sana, 2001-2002.

Kariernya setelah meninggalkan Manchester United tak terlalu signifikan hingga ia mengakhiri karier sepakbola profesional pada musim 2008-2009 bersama Sunderland.

Komentari Artikel Ini