Mau Sampai Kapan Jadwal Piala AFF Bentrok Dengan Jadwal Liga?

Sepakbola.com, Yogyakarta – Gelaran Piala AFF 2018 tinggal menghitung hari. Tepat pada tanggal 8 November nanti, Indonesia akan memulai petualangannya di ajang dua tahunan ini dengan menghadapi Singapura di Kallang.

Seperti pada gelaran Piala AFF sebelumnya, eksepktasi yang ada di pundak tim Garuda saat ini sama tingginya. Baik publik, media, bahkan PSSI sendiri menargetkan skuat asuhan Bima Sakti untuk menjadi juara di ajang Piala AFF 2018.

Hal tersebut wajar saja karena selama ini kita dikenal sebagai tim yang sangat akrab dengan status spesialis runner-up Piala AFF. Selain itu dengan Thailand yang tidak akan menurunkan para pemain kuncinya kali ini juga kian membuka peluang bagi Indonesia untuk mencoba menjadi juara.

Namun, masalah tetap saja terjadi. Sama seperti gelaran Piala AFF dua tahun silam, kali ini Piala AFF bergulir di tengah belum selesainya gelaran Liga Indonesia.

Hal ini tentu sangat menyesakkan bagi tim-tim yang harus rela melepas para pemain kunci di tengah perjuangan mereka bertarung di Liga 1. Beberapa tim sudah mengungkapkan keberatan untuk melepas para pemain kunci mereka termasuk Sriwijaya FC. Tim asal Palembang itu harus rela ditinggalkan Zulfiandi dan Beto Goncalves di tengah upaya mereka lolos dari zona degradasi musim ini.

Terkait hal itu PSSI yang kali ini diwakili sang wakil ketua Joko Driyono beberapa waktu lalu berkomentar.

“Menjelang putaran kedua, PSSI dan seluruh klub. PSSI sudah sampaikan bahwa kompetisi overlapping dengan event AFF. PSSI sudah sampaikan Timnas adalah prioritas,” kata pria yang akrab disapa Jokdri itu dikutip dari situs Bolalob.

“Kami sadari, tapi ini bukan tiba-tiba. Oleh karenanya, PSSI tidak mau kompromi. Ini jadi kebijakan dan Timnas harus prioritas. Pemanggilan pemain betul-betul kepentingan negara. Kami yakin klub, pemain punya komitmen sama, untuk pencapaian terbaik di Piala AFF,” tandas Jokdri.

Cerita lama

Kalimat “PSSI tidak mau kompromi” yang dilontarkan Jokdri terkesan sangat tegas karena ia sangat mementingkan kepetingan tim nasional ketimbang liga domestik. Namun, kesan tegas itu sekaligus tentunya hanya berlaku bagi orang awam saja.

Melihat rekam jejak kompetisi domestik di negeri ini, pernyataan Jokdri itu cukup menggelitik, bahkan seharusnya tidak layak dilontarkan.

Kita semua tahu bahwa Piala AFF adalah ajang yang rutin dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Selain itu waktu dimulainya Piala AFF juga sudah sangat jelas yakni antara bulan November hingga Desember, atau di beberapa episode ada yang sampai Januari.

Sementara itu PSSI dan PT Liga Indonesia Baru yang menjadi pihak penggerak liga seharusnya bisa mengatur jadwal dengan lebih baik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kita tentu tahu bagaimana drama soal tanggal kick-off liga 1 tahun ini yang mundur beberapa kali, dan hal itu sudah terjadi berluang kali.

Masalah bagi PSSI tidak hanya selesai di situ. Masih ada juga kompetisi Piala Indonesia yang tak jelas jintrungannya. Bahkan mungkin beberapa klub sudah tidak ingat mereka masih harus berkompetisi di Piala Indonesia.

Kita tentu tidak mau lagi terus-menerus menyaksikan hal semacam ini. Untuk tahun depan, PSSI dan PT Liga harus dan wajib mengatur jadwal dengan lebih baik lagi. Jika tidak mampu, serahkan saja kepada pihak-pihak yang lebih profesional. Sejatinya jadwal yang rapih akan mengakomodir kepentingan semua pihak secara merata, dalam hal ini klub dan tim nasional Indonesia.

Penulis: Hery Kurniawan
Editor: Avandi Wiradinata

Komentari Artikel Ini