Tersangkut Kasus Kriminal, Mantan Pemain Timnas Bahrain Memohon Tak Diekstradisi

Sepakbola.com, Bangkok – Seorang pemain sepak bola Hakeem al-Araibi yang berstatus pengungsi Australia meminta di pengadilan Thailand tidak memulangkannya ke Bahrain. Hakeem al-Araibi tersangkut kasus kriminal yang tidak diakuinya di Bahrain.

“Tolong bicara dengan Thailand, jangan kirim saya ke Bahrain. Bahrain tidak akan membela saya,” teriak Hakeem al-Araibi kepada wartawan di luar pengadilan saat dia dikawal penjaga ke persidangan dikutip dari AP.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengirim surat bulan lalu mendesak Thailand untuk menghentikan ekstradisi. Badan yang mengatur sepak bola dan aktivis hak asasi manusia mendesak Thailand untuk membiarkan dia kembali ke Australia dan bermain untuk tim semi-profesional di Melbourne.

Pengadilan dapat memerintahkan penahanan berbeda saat ekstradisinya diproses, atau jika al-Araibi menolak kembali ke Bahrain dengan sukarela, akan diadakan sidang di Thailand. Pejabat Thailand sebelumnya mengatakan panjang persidangan akan tergantung berapa banyak saksi yang dipanggil oleh masing-masing pihak.

Al-Araibi, mantan pemain tim nasional Bahrain mengatakan dia melarikan diri dari negara asalnya karena penindasan politik. Bahrain ingin dia kembali untuk menjalani hukuman penjara 10 tahun yang dia terima secara in absentia pada 2014 dengan tuduhan pembakaran yang merusak kantor polisi.

Dukungan dari Australia

Al-Araibi ditahan pada saat datang ke Bangkok pada bulan November ketika sedang berlibur, dan kemudian ditahan sambil menunggu selesainya permintaan ekstradisi oleh Bahrain.

“Istrimu mengirimkan cintanya, Hakeem. Seluruh Australia bersamamu. Kuatlah. Sepakbola bersamamu,” kata mantan kapten tim sepakbola nasional Australia Craig Foster kepada Hakeem di luar pengadilan. Foster sendiri berada di Bangkok untuk mendorong pembebasan al-Araibi.

“Saya pikir fakta-fakta dari kasus ini sangat sederhana. Hakeem seorang pengungsi. Dia pembela hak asasi manusia dan oleh karena itu menurut hukum internasional dia seharusnya tidak menjadi subjek dari proses ini,” kata Francis Awaritefe, wakil presiden FIFPro.

Hakeem mengatakan matanya ditutup dan kakinya dipukuli saat dia ditahan di Bahrain sebelumnya. Dia mengatakan dia yakin menjadi sasaran penangkapan karena dia seorang Syiah dan karena saudaranya aktif secara politik di Bahrain. Bahrain memiliki mayoritas Syiah tetapi diperintah oleh Sunni.

Pengajuan pengadilan pekan lalu oleh jaksa penuntut Thailand mencatat sementara Thailand dan Bahrain tidak memiliki perjanjian ekstradisi. Meski begitu, ekstradisi masih dimungkinkan oleh hukum jika Bahrain mengajukan permintaan resmi. Itu juga bisa terjadi bila kejahatan tersebut dihukum lebih dari setahun dan bukan kasus bermuatan politik atau pelanggaran militer. (Sumber: ap.org)

Penulis: Ricky Sulastomo/Editor: Rudi Purwantoro

Komentari Artikel Ini