Mauricio Pochettino: Bukan Harry Kane Yang Bicara Di Ruang Ganti Tottenham

Mauricio Pochettino menyebut kapten Hugo Lloris yang "berpidato" di ruang ganti saat turun minum semifinal Liga Champions melawan Ajax.

Sepakbola.com, London – Mauricio Pochettino terkejut dengan klaim bahwa Harry Kane menginspirasi Tottenham Hotspur saat jeda pertandingan leg kedua semifinal Liga Champions melawan Ajax Amsterdam.

Spurs tertinggal 3-0 secara agregat pada interval pertandingan itu, tetapi Lucas Moura mencetak tiga gol di babak kedua yang memastikan kelolosan timnya ke babak final Liga Champions. Berbicara setelah pertandingan, bek kanan Kieran Trippier mengungkapkan wakil kapten Kane bicara untuk membangkitkan mental pemain di ruang ganti.

Tetapi Pochettino mengatakan komentar Trippier itu mungkin telah disalahpahami dan menurutnya kapten Hugo Lloris pantas dipuji karena perannya dalam menginspirasi perjuangan timnya.

“Itu mengejutkan saya. Mendengarkan Trippier, dia tidak mengatakan Harry yang berbicara. Itu bukan pembicaraan tim. Dia ada di sana seperti halnya Davinson Sanchez atau pemain lain yang tidak terlibat,” ujar Pochettino.

“Trippier mengatakan ‘kehadirannya’. Harry ada di sana dan menyalurkan keyakinan. Tapi jujur ​​saja, saya berbicara. Itu bukan saatnya untuk berbicara terlalu banyak. Dan pada akhirnya yang mengangkat mereka sebelum turun ke lapangan adalah kapten kami, Hugo Lloris. Saya ingat kata-kata Hugo Lloris ketika saya meninggalkan ruang ganti. Dia berteriak, ‘Kita sudah sangat dekat, kita perlu mencetak satu gol lagi, jangan pernah menyerah’,” tambahnya.

Santai di ruang ganti

Spurs memasuki jeda pertandingan di Johan Cruijff ArenA dengan mengetahui bahwa mereka perlu tiga gol di babak kedua untuk bisa bertemu dengan Liverpool di final Liga Champions. Meskipun Tottenham memiliki tugas yang berat, Pochettino mengaku santai saat itu karena timnya tidak pantas kebobolan dua gol di babak pertama.

“Kami memberikan waktu lima menit kepada tukang pijat, fisio dan dokter. Ketika saya tiba, saya berbicara dan menunjukkan beberapa klip. Saya pikir itu adalah jeda pertandingan yang paling santai dalam enam bulan terakhir,” lanjut Pochettino.

“Saya sangat marah dengan takdir pada saat itu. Karena permainan di lapangan sangat seimbang. Perbedaannya adalah mereka tajam di depan gawang, kami kebobolan dan kami tidak mencetak gol. Kami memiliki semuanya, penguasaan bola, usaha di lapangan dan intensitas,” pungkasnya. (Sumber: Goal)

 

Penulis: Andrie Widyantoro/Editor: Rudi Purwantoro

Komentari Artikel Ini