Ternyata Bukan Ronaldo Penyebab Robben Pergi Dari Real Madrid

Arjen Robben dua musim berkostum Real Madrid medio 2007-2009 sebelum gabung Bayern Munchen.

Sepakbola.com, Munich – Arjen Robben mengatakan politik di Real Madrid, dan bukan hanya kedatangan Cristiano Ronaldo, yang memaksanya untuk keluar dari klub itu.

Pemain sayap berusia 35 tahun itu akan mengakhiri kariernya selama satu dekade di Bayern Munich setelah final DFB-Pokal melawan RB Leipzig akhir pekan ini. Ini adalah 10 tahun yang sukses untuk Robben, karena ia telah menjadi bagian dari timnya yang meraih tujuh gelar Bundesliga berturut-turut dan gelar Liga Champions pada 2013.

Tapi kariernya itu tidak akan pernah terwujud jika ia tidak memutuskan untuk pergi dari Real Madrid pada musim panas 2009. Robben tampil baik selama dua musim di Bernabeu, tetapi kembalinya Florentino Perez ke Los Blancos menyebabkan perubahan besar-besaran di Real Madrid, termasuk kedatangan Ronaldo dari Manchester United.

Dan Robben adalah bagian dari kelompok pemain yang pergi dari Real Madrid saat itu. Tetapi dia bersikeras kepergiannya bukan hanya karena kedatangan Ronaldo atau pemain lainnya.

“Saya sebenarnya merasa sangat nyaman di sana dan bermain dengan sangat baik, tetapi ketika politik ikut bermain dan saya tidak mendapatkan kesempatan nyata, saya harus membuat keputusan apakah ingin terus berjuang atau pergi dan melanjutkan karier di tempat lain,” ujar Robben.

“Bukan hanya tentang Ronaldo. Perez kembali sebagai presiden klub. Dia kemudian membeli Ronaldo, dan juga Kaka, [Karim] Benzema dan Xabi Alonso. Real menghabiskan begitu banyak uang dan kami diberitahu klub perlu mendapatkan pemasukan dari transfer itu,” tambahnya.

“Bagi saya itu sangat disayangkan, karena saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan mantan pelatih Manuel Pellegrini. Selain itu, saya mungkin memiliki pra-musim terbaik dalam karier saya,” lanjut Robben.

Keputusan transfer terbaik

Tapi Robben diminati oleh klub besar lainnya yaitu Bayern Munich. Mantan pemain sayap tim nasional Belanda itu menjelaskan bagaimana ketertarikan Bayern Munich mampu meyakinkannya untuk pindah.

“Saya berbicara dengan Mark Van Bommel dan Louis Van Gaal. Dia memberi tahu saya bagaimana rencananya untuk saya. Keduanya dengan jelas memberi isyarat kepada saya untuk datang ke Munich.”

“Saya ingat keputusan itu tidak mudah. ​​Kami sekeluarga duduk bersama dan berbicara. Lagi pula, ini tentang meninggalkan klub besar seperti Real Madrid. Tidak ada jalan untuk kembali. Tapi pada akhirnya kepindahan ke Bayern adalah keputusan terbaik dalam karier saya,” pungkasnya. (Sumber: SPOX)

 

Penulis: Andrie Widyantoro/Editor: Rudi Purwantoro

Komentari Artikel Ini