5 Pemain Yang Mendobrak Musim 2018-2019

Sepakbola.com – Real Madrid mengecewakan musim 2018-2019, Barcelona juga tak memenuhi ekspektasi dan target mereka. Di Inggris, Manchester United gagal ke Liga Champions bersama Arsenal, sedangkan Tottenham kalah di final Liga Champions melawan Liverpool.

Musim 2018-2019 memang agak mencengangkan dan di luar prediksi, tapi ada pemain yang sangat menonjol. Bagi beberapa pemain, ini merupakan musim pertamanya tampil istimewa di tim utama masing-masing. Berikut lima pemain yang di luar dugaan banyak orang bisa tampil mengesankan.

Aaron Wan-Bissaka

Ketika PFA team of the year diumumkan beberapa penggemar sepak bola Inggris merasa Wan-Bissaka harusnya menggantikan Alexander-Arnold, mereka percaya itu akan meningkatkan performa Timnas U-21 Inggris.

Wan-Bissaka awalnya sebagai sayap dan kemudian berubah menjadi bek kanan usai masuk ke tim utama. Dari penampilan terbatasnya di timnas Inggris, dia menunjukkan kontak bola yang sangat bagus. Rata-rata dia terlibat 7,27 duel ofensif per pertandingan, persentase mengalahkan lawannya mencapai 56,3%.

Secara keseluruhan Wan-Bissaka aset terbesar di sepertiga akhir musim 2018-19. Kecepatan, tipu daya dan kontrol dekatnya membuat dia menjadi ancaman saat satu lawan satu. Dia nyaman membawa bola ke tengah lapangan dan memberikan umpan cerdas ke tengah kotak penalti. Ada laporan Ole Gunar Solskjaer menjadikan dia sebagai target nomor satu musim panas ini.

Luka Jovic

Dengan 17 gol dan 5 assist dari 32 pertandingan Bundesliga, Jovic merupakan prospek terpanas sepak bola saat ini. Striker Serbia ini mencetak lima gol luar biasa melawan Fortuna Dusseldorf dan menjadi pemain termuda yang melakukan itu di Jerman.

Ketika Kovac – pelatih Eintracht Frankfrut saat itu- kedatangan Hutter yang dianggap lebih bermental menyerang, dia memberi kebebasan kepada Jovic, berkeliaran mengekspresikan diri dan menjadikannya opsi duet bersama Rebic dan target man Sebastian Haller.

Dia pengiring bola yang hebat, pemain Serbia 21 tahun ini mampu menghadapi bek dan menciptakan peluang untuk dirinya sendiri dan juga rekannya. Dia melepas paling tidak satu umpan kunci per pertandingan. Dia juga memiliki tembakan yang bagus, tembakan yang sulit diselamatkan kiper.

Real Madrid telah resmi mendapatkannya, dan musim depan Luka Jovic akan meramaikan gelaran LaLiga Spanyol.

Nicolas Pepe

Tiga tahun lalu Pepe bermain untuk klub divisi tiga Prancis, AS Orleans, yang baru saja terdegradasi usai dipinjamkan dari Angers. Setelah satu musim sukses bersama AS Orleans, Angers memasukkannya ke tim utama mereka dan pada akhir musim dijual ke Lille yang dipimpim Marco Bielsa.

Manajer asal Argentina tersebut menempatkan dia di tengah sehingga kesulitan karena posisi favoritnya adalah sayap kanan. Hal pertama yang akan lihat saat menonton Pepe adalah keterusterangannya. Setiap langkah yang dia ambil memperlihatkan mind-set menyerangnya. Yang kedua adalah kontrol bola dekat dengan kakinya dan ini bagus ketika digabungkan dengan langkahnya, akan menjadi mimpi buruk bagi bek lawan.

Lebih dari itu, Pepe mejadi salah satu yang terbaik di Perancis untuk kategori mengancam gawang lawan entah itu menciptakan peluang, tembakan, operan kunci. Rata-rata dia mencetak gol setiap 4,62 kali percobaan dalam hitungan 90 menit, persentase terbaik ketiga di Ligue 1.

Premier League tampaknya tempat yang paling cocok karena permainan bola direct. Pemain-pemain tipikal seperti dia sudah banyak yang sukses seperti Owen, Henry, Anelka dan lainnya.

Frenkie De Jong

De Jong adalah seorang bek tengah di musim pertamanya bersama Willem II, kemudian pindah ke gelandang di bawah kepemimpinan Erik Tan Haag. Kekuatannya mengejutkan banyak orang, menggiring bola dan membawanya keluar dari daerah peratahanan timnya. Melihat statistiknya sangat tinggi, 87,1% (3,64 driblle sukses per pertandingan).

Frankie memenangkan lebih dari setengah duelnya, 53% (rata-rata 19,82 per pertandingan) secara keseluruhan dan yang tertinggi di Liga Belanda 85%. De Jong memiliki kemampuan istimewa untuk memecah lini tengah lawan, dengan hanya satu operan dia melewati 5-6 pemain lawan.

Di leg kedua melawan Juventus ketika Dybala keluar digantikan Kean, Juventus kesulitan mengontrol permainan karena Kean gagal mengidentifikasi De Jong. Ini wajar karena Kean merupakan striker, tetapi itu menjadi musibah untuk pertahanan Juventus yang rapuh. De Jong akhirnya bisa mengendalikan pertandingan.

Arthur dianggap pewaris permainan Xavi dan Riqui Puig mewarisi Iniesta. De Jong akan melengkapi daftar ini dengan menjadi pengganti Sergio Busquet.

Jadon Sancho

Saat Sancho meninggalkan Inggris ke Dortmund itu dianggap keputusan berisiko karena tidak ada pemain Inggris yang meninggalkan negara mereka di usia semuda dia pada tahun 2017. Musim pertama masih sulit, tetapi di musim kedua dia menjadi buah bibir.

Pelatih Dortmund, Lucien Favre mengatakan perkembangan Sancho melebihi target, bagus dalam organisir dan orang di belakang target man. Sancho pemain muda dengan assist terbanyak di Jerman, rata-rata 1 per 90 menit.

Favre sering menggunakan Sancho menjadi salah satu dari tiga gelandang dengan formasi 4-2-3-1. Dia sebagian besar bermain di kanan. Dia lebih suka mengolah bola, berhadapan satu lawan satu dengan bek dan kemudian memberikan umpan atau masuk ke kotak penalti.

Jadi mengapa Sancho harus pergi dari City bila dia sebagus ini, Pep Guardiola tidak akan salah dalam melihat bakatnya. Alasannya tentu Raheen Sterling, winger Inggris ini masih tak tergantikan di Manchester City dan dia masih 24 tahun, alasan yang sangat logis.

Komentari Artikel Ini