Siapa Sangka, Klub Kota Turin Ini Pernah Sehebat Juventus

Torino pernah sukses merengkuh Scudetto lima musim beruntun dari 1942-43 sampai 1948-49.

Sepakbola.com – Torino pernah menjadi salah satu klub Serie A paling disegani. Kekuatan mereka bahkan sampai memengaruhi skuat tim nasional Italia. Di masa jaya, Il Toro pernah memiliki prestasi yang mirip dengan pencapaian Juventus kala itu.

Torino sukses merengkuh Scudetto lima musim beruntun dari 1942-43 sampai 1948-49 (namun tidak termasuk dua musim, 1943-44 dan 1944-45, yang dibekukan karena Perang Dunia II). Andai saja dua musim tidak dibekukan, boleh jadi Torino bisa menyabet tujuh gelar liga secara berturut-turut.

Di era itu, publik Italia sepakat, klub yang dulu punya julukan Il Grande Torino tersebut bukan hanya tim terbaik, tapi juga dianggap sebagai simbol sakral bagi masyarakat Italia. Setiap orang menyukai tim ini dan mereka selalu menikmati setiap kemenangan yang diraih Si Banteng Merah.

Sebagai pembanding di masa itu, Juventus sudah mengoleksi tujuh Scudetto yang terdiri dari satu titel Prima Categoria, satu Prima Divisione dan lima Serie A. Di era Serie A yang dimulai pada musim 1929-30, Juve menjadi juara lima musim beruntun dari 1930-31 hingga 1934-35. Namun memasuki 1940an, nama Juve sebagai klub paling disegani dari kota Turin seakan hilang tertelan bumi.

Dominasi Skuat Timnas Italia

Torino, yang berdiri pada 3 Desember 1906, menjadi tulang punggung bagi tim nasional Italia. Bayangkan saja, dalam periode tersebut, 10 pemain mereka menjadi langganan Gli Azzurri. Itu artinya Torino mendominasi hampir separuh skuat Italia.

Sang kapten adalah Valentino Mazzola, ayah dari Ferruccio Mazzola (eks kapten Lazio era 1970an) dan Sandro Mazzola (legenda Inter Milan, 1960-1977). Secara garis besar, skuat inti Torino saat itu adalah: Bacigalupo; Ballarin, Maroso; Grezar, Rigamonti, Castigliano; Menti, Loik, Gabetto, Mazzola, Ossola.

Runtuhnya Kejayaan Il Grande Torino

Namun sayang, kebesaran Torino tiba-tiba harus berakhir pada 4 Mei 1949 pukul 17.05 waktu Italia. Itu ketika pesawat, yang membawa rombongan tim dari laga persahabatan melawan Benfica di Lisbon, jatuh setelah menabrak dinding bangunan Basilica of Superga, Turin. Menurut laporan, penyebab kecelakaan adalah kabut tebal dan kerusakan pada altimeter pesawat.

Seluruh pecinta sepakbola Italia seketika terkejut, tak menyangka dengan apa yang terjadi. Kesedihan menyeruak ke seantero Eropa dan dunia. Sebanyak 31 orang meninggal dunia, termasuk pemain, staf klub, jurnalis dan anggota kru pesawat.

Mereka yang meregang nyawa adalah para pemain Valerio Bacigalupo, Aldo Ballarin, Dino Ballarin, Emilio Bongiorni, Eusebio Castigliano, Rubens Fadini, Guglielmo Gabetto, Ruggero Grava, Giuseppe Grezar, Ezio Loik, Virgilio Maroso, Danilo Martelli, Valentino Mazzola, Romeo Menti Piero Operto, Franco Ossola, Mario Rigamonti dan Giulio Schubert; tim pelatih Egri Erbstein dan Leslie Levesley; tukang pijat Ottavio Cortina; eksekutif klub Arnaldo Agnisetta, Andrea Bonaiuti dan Ippolito Civalleri.

Elemen Torino yang selamat adalah hanya mereka yang tidak ikut rombongan, yakni bek sayap Sauro Toma, kiper cadangan Renato Gandolfi, kapten tim muda Luigi Giuliano dan presiden klub Ferruccio Novo.

Serie A 1948-49 Diselesaikan Pemain Muda

Torino menyelesaikan musim 1948-49 dengan menurunkan tim muda Torino, yang memainkan empat laga melawan skuat muda dari tim lain. Tim lain memang sengaja menurunkan pemain mudanya sebagai bentuk penghormatan pada Torino. Dan Torino memenangkan seluruh laga tersisa, menyelesaikan musim dengan 60 poin, unggul lima angka dari Inter di posisi kedua. Namun kemenangan itu terasa pahit dengan kenangan tragedi yang tak terlupakan.

Akhir Sebuah Era

Keruntuhan Torino menjadi awal baru bagi Serie A. Dari masa inilah Juventus, AC Milan dan Inter Milan akhirnya mulai mendominasi Liga Italia hingga sekarang. Ketiganya bergantian menjadi yang terbaik di kasta tertinggi. Juve menjadi tim pertama yang memutus dominasi Torino dengan menjuarai Serie A 1949-50. Selanjutnya empat musim beruntun; Juve, AC Milan dan Inter selalu menempati posisi tiga besar.

Di era 1950an awal, prestasi terbaik Torino hanya menempati peringkat keenam klasemen pada 1949-50. Selebihnya mereka hanya berkutat di papan tengah dan bawah.

(Berbagai Sumber/TorinoFC)

Komentari Artikel Ini