Mengenal Andrea Silenzi, Italiano Pertama Di Liga Inggris

Andrea Silenzi gagal menaklukkan Liga Inggris yang pada 1995 kalah pamor dibandingkan dengan Serie A.

Andrea Silenzi dalam kostum klub Liga Inggris, Nottingham Forest.

Sepakbola.com – Roberto Di Matteo, Fabrizio Ravanelli, Gianluca Vialli dan Gianfranco Zola telah meninggalkan jejak bagus di Liga Inggris yang terus diingat hingga sekarang. Seringkali, salah satu dari mereka dianggap sebagai pesepakbola negeri pizza pertama yang berani mengambil tantangan bermain di Inggris. Sayangnya anggapan tersebut salah karena persepakbola Italia pertama yang mengadu nasib di Liga Inggris adalah Andrea Silenzi.

Siapa Andrea Silenzi? Lahir di Roma, penyerang ini dikenal dengan julukan “Pennellone” yang bisa dimaknai “Sapu Besar”. Postur setinggi 191 centimeter dan rambut panjang yang “acak-acakan” menjadi asal nama julukan yang disandang Silenzi.

Ia memulai karier sepakbola di liga kasta bawah sebelum bergabung ke klub kasta ketiga AC Reggiana pada 1988 saat berusia 22. Musim 1988-1989 menjadi musim bagus buat Silenzi yang mencetak 18 gol untuk membawa klubnya promosi ke Serie B.

Pamor Silenzi semakin mencorong musim berikutnya. Ia menyabet gelar top skorer dengan 23 gol dari 38 pertandingan Serie B. Reggiana memang hanya finis di peringkat ketujuh klasemen namun naluri pembunuh dalam diri Silenzi membuat klub-klub Serie A mulai melirik. Napoli kemudian merekrutnya pada musim panas 1990.

Sayangnya, bermain di tengah talenta-talenta hebat macam Diego Maradona, Careca hingga Gianfranco Zola justru membuat sinar Silenzi meredup. Tak mengejutkan jika kemudian ia dilego ke Torino setelah dua musim tinggal di Naples. Ia diplot sebagai pengganti Gianluigi Lentini yang hengkang dari Torino ke Milan dalam transfer yang memecahkan rekor kala itu.

Ekspektasi fans Torino sangat tinggi, sayangnya Pennellone hanya mencetak tiga gol di musim pertamanya di Serie A. Meski begitu dua gol di leg kedua Final Coppa Italia lawan AC Milan mendongkrak popularitasnya di mata fans. Gelar juara Piala Italia musim 1992-1993 itu menjadi pencapaian yang patut dibanggakan Silenzi di kemudian hari.

Terpicu penampilan final Coppa Italia musim sebelumnya, Silenzi bangkit di musim 1993-1994 dan mampu mencatat 17 gol di Serie A. Catatan tersebut menempatkannya di peringkat ketiga daftar top skorer Serie A dan mengantarnya mendapat panggilan Timnas Italia.

Gagal gantikan peran Collymore

Musim 1994-1995 tak terlalu mulus dan hanya berbuah empat gol liga meski begitu tak mengurangi minat dari Inggris kepadanya. Pada musim panas 1995, Nottingham Forest merealisasikan ketertarikan manajer Frank Clark dengan menawarkan mahar senilai 1,8 juta pounds untuk Silenzi.

Clark menilai Silenzi akan menjadi pengganti sebanding untuk Stan Collymore yang dibajak Liverpool. Forest berharap fisik Silenzi yang kokoh bisa menjadi penyelesai umpan silang sekaligus penarik bek lawan untuk memberi ruang bagi rekan setim

Forest yakin telah membuat transfer brilian dengan merekrut penyerang dengan caps Timnas Italia, yang sedang berada di usia keemasan. Keyakinan Forest bukan tanpa alasan mengingat Silenzi punya pengalaman cukup menawan di Serie A yang kala dianggap sebagai kompetisi sepakbola terbaik dunia. Status Italiano pertama di Liga Inggris memberi tekanan cukup berat bagi Silenzi yang mendapatkan bayaran 30.000 pounds per bulan. Nilai gaji yang cukup tinggi kala itu.

Silenzi tampil tak sesuai harapan, ia tak mampu menampilkan performa maksimal di Liga Inggris. Bahkan untuk masuk Starting XI Nottingham Forest saja ia kesulitan. Total ia hanya mengumpulkan 10 penampilan sepanjang musim 1995-1996 dan gagal mencetak gol di Premier League. Sedikit “keberhasilan” datang lewat gol di ajang Piala FA lawan Oxford United dan pertandingan Piala Liga lawan Bradford City.

Tak butuh waktu lama untuk Clark membuat keputusan membuang Silenzi. Ia dipinjamkan ke klub Italia Venezia menjelang musim 1996-1997 dimulai. Selama masa peminjaman ia hanya mencetak empat gol dalam 26 penampilan. Di akhir masa peminjaman ia menolak kembali ke Forest hingga kontraknya diputus.

Masalah adaptasi dan cedera

Apa yang menjadi alasan kegagalan Silenzi di Nottingham Forest? Rentetan cedera memang ikut berperan tetapi ketidakmampuannya beradaptasi dengan Liga Inggris dinilai menjadi problem utama. Kultur, bahasa hingga kebiasaan di Nottingham berbeda dengan Turin atau Naples. Sebagai tambahan, klub-klub Inggris pada saat itu tak punya staf penghubung yang bisa membantu pemain asing beradaptasi. Departermen macam itu kini menjadi bagian penting untuk membantu para pemain asing yang direkrut.

Kesulitan menetap di negara baru atau masalah cedera bisa sangat melemahkan kepercayaan diri pemain. Kemunduran itu dapat bermanifestasi di tempat latihan atau mengurangi antusias pada hari pertandingan hingga kemudian tampil di bawah standar. Silenzi kesulitan untuk kembali ke jalur karier bagus setelah meninggalkan Nottingham Forest.

Ia menjalani karier gagal di Reggiana dan Torino sebelum gantung sepatu pada tahun 2001 di tim Serie B Ravenna. Dan pada akhirnya, trofi Coppa Italia 1993 bersama Torino menjadi pencapaian terbaik sepanjang karier Silenzi.

Silenzi memang gagal di Nottingham Forest, tetapi ia menjadi pemain Italia pertama yang berani menerima tantangan bermain di Premier League. Ia menjadi pembuka jalan bagi Italiano lain seperti Ravanelli, Vialli dan Zola.

Komentari Artikel Ini